Selasa, 10 Mei 2016

Pendidikan Jasmani dan Olahraga


1.      Pendidikan Jasmani
a.    Pengertian Pendidika jasmani
   Pendidikan Jasmani adalah suatu proses pendidikan seseorang sebagai perorangan atau anggota masyarakat yang dilakukan secara sadar dan sistematik melalui berbagai kegiatan jasmani untuk memperoleh pertumbuhan jasmani, kesehatan dan kesegaran jasmani, kemampuan dan keterampilan, kecerdasan dan perkembangan watak serta kepribadian yang harmonis dalam rangka pembentukan manusia Indonesia berkualitas berdasarkan Pancasila.
   Pendidikan jasmani pada hakikatnya adalah proses pendidikan yang memanfaatkan aktivitas fisik untuk menghasilkan perubahan holistik dalam kualitas individu, baik dalam fisik, mental, serta emosional. Pendidikan jasmani memperlakukan anak sebagai sebuah kesatuan utuh, makhluk total, dari pada hanya menganggapnya sebagai seorang yang terpisah kualitas fisik dan mentalnya.
   Pendidikan jasmani ini harus menyebabkan perbaikan dalam pikiran dan tubuh yang mempengaruhi seluruh aspek kehidupan harian seseorang. Pendekatan holistic tubuh jiwa ini termaksud pula penekanan pada ketiga domain kependidikan, psikomotor, kognitif, dan afektif.
   Pendidikan jasmani dapat diartikan juga sebagai suatu proses pendidikan melalui aktivitas jasmani yang didesain untuk meningkatkan kebugaran jasmani, mengembangkan keterampilan motorik, pengetahuan dan perilaku hidup sehat dan aktif, sikap sportif, dan kecerdasan emosi. Lingkungan belajar diatur secara seksama untuk meningkatkan pertumbuhan dan perkembangan seluruh ranah, jasmani, psikomotorik, kognitif, dan afektif setiap siswa.
b.    Tujuan Pendidikan Jasmani
   Pendidikan jasmani diarahkan pada tujuan secara keseluruhan (multilateral) seperti halnya tujuan pendidikan secara umum. Pendidikan jasmani merupakan salah satu dari subsistem-subsistem pendidikan. Pendidikan jasmani dapat didefinisikan sebagai suatu proses pendidikan yang ditujukan untuk mencapai tujuan pendidikan melalui gerakan fisik. Telah menjadi kenyataan umum bahwa pendidikan jasmani sebagai satu kenyataan umum bahwa pendidikan jasmani sebagai satu substansi pendidikan mempunyai peran yang berarti mengembangkan kualitas manusia Indonesia.
   Sebagaimana diterapkan dalam Undang-Undang RI. Nomor II Tahun 1989 tentang Sistem Pendidikan Nasional bahwa tujuan pendidikan termasuk pendidikan jasmani di Indonesia adalah pengembangan manusia Indonesia seutuhnya ialah manusia yang beriman dan bertaqwa terhadap Tuhan Yang Maha Esa dan berbudi luhur, memiliki pengetahuan dan keterampilan, kesehatan jasmani dan rohani, kepribadian yang mantap dan mandiri serta rasa tanggung jawab kemasyarakatan dan kebangsaan. Tujuan yang ingin dicapai dalam pendidikan jasmani, diantaranya:
1)   Perkembangan Pribadi
a)      Pertumbuhan fisik optimal
b)      Sehat fisik, mental, sosial, dan spiritual
c)      Kesegaran jasmani optimal
d)      Cerdas
e)      Kreatif dan inovatif
f)       Terampil dalam gerak dan  memecahkan masalah
g)      Jujur, disiplin, percaya diri, dan   tanggung jawab
2)   Hubungan Antar Pribadi dan Lingkungan
a)      Hormat pada sesame
b)      Gotong royong
c)      Luwes (mudah menyesuaikan diri)
d)      Komunikatif dalam ide (konsep) dan   pemikiran
e)      Etika (sopan santun)
f)       Menghargai kondisi lingkungan
g)      Melestarikan lingkungan yang sehat  dan harmonis
     Selain itu pendidikan jasmani juga memberikan kesempatan kepada siswa untuk :
1)   Mengembangkan pengetahuan dan keterampilan yang berkaitan dengan aktivitas jasmani, perkembangan estetika, dan perkembangan sosial.
2)      Mengembangkan kepercayaan diri dan kemampuan untuk menguasai keterampilan gerak dasar yang akan mendorong partisipasinya dalam aneka aktivitas jasmani.
3)      Memperoleh dan mempertahankan derajat kebugaran jasmani yang optimal untuk melaksanakan tugas sehari-hari secara efisien dan terkendali.
4)      Mengembangkan nilai-nilai pribadi melalui partisipasi dalam aktivitas jasmani baik secara kelompok maupun perorangan.
5)      Berpartisipasi dalam aktivitas jasmani yang dapat mengembangkan keterampilan sosial yang memungkinkan siswa berfungsi secara efektif dalam hubungan antar orang.
6)      Menikmati kesenangan dan keriangan melalui aktivitas jasmani, termasuk permainan olahraga
c.       Isi Pembelajaran
Dalam pendidikan jasmani disesuaikan dengan tingkat kemampuan anak didik, sedangkan pada olahraga isi pembelajaran atau isi latihan merupakan target yang harus dipenuhi.
d.      Orientasi Pembelajaran
Pada pendidikan jasmani berpusat pada anak didik. Artinya anak didik yang belum mampu mencapai tujuan pada waktunya diberi kesempatan lagi, sedangkan pada olahraga atlet yang tidak dapat mencapai tujuan sesuai dengan target waktu dianggap tidak berbakat dan harus diganti dengan atlet lain.
2.      Olahraga
a.       Pengertian Olahraga
Olahraga sebenarnya memiliki dua arti yaitu olahraga yang berasal dari Bahasa Indonesia dan olahraga yang berasal dari kata sport. Olahraga yang berasal dari bahasa Indinesia memiliki arti gerak badan untuk menguatkan dan menyehatkan tubuh. Sedangkan pengertian olahraga yang berasal dari kata sport dalam budaya Amerika diartikan sebagai aktivitas bermain yang diorganisir dan bersifat kompetetif. Coakley (2001), menyatakan bahwa olahraga memiliki tiga indikator, yaitu: 1) sebagai bentuk keterampilan tingkat tinggi; 2) dimotivasi oleh faktor intrinsik dan ekstrinsik motivasi; dan 3) ada lembaga yang mengatur dan mengelolanya.
Olahraga adalah proses sistematik yang berupa segala kegiatan atau usaha yang dapat mendorong mengembangkan, dan membina potensi-potensi jasmaniah dan rohaniah seseorang sebagai perorangan atau anggota masyarakat dalam bentuk permainan, perlombaan/ pertandingan, dan kegiatan jasmani yang intensif untuk memperoleh rekreasi, kemenangan, dan prestasi puncak dalam rangka pembentukan manusia Indonesia seutuhnya yang berkualitas berdasarkan Pancasila.
Olahraga juga bisa diartikan serangkaian gerak raga yang teratur dan terencana untuk memelihara gerak (mempertahankan hidup) dan meningkatkan kemampuan gerak (meningkatkan kualitas hidup). Olahraga adalah suatu bentuk kegiatan jasmani yang terdapat di dalam permainan, perlombaan dan kegiatan intensif dalam rangka memperoleh relevansi kemenangan dan prestasi optimal.
b.      Tujuan Olahraga
1)        Peningkatan
Meskipun orang itu bebas penyakit belum tentu orang iti sehat,dengan mengukur beban latihan yang di berikan pada seseorang,maka kebugaran dapat di klasifikasi menjadi sangat kurang,latihan fisik yang teratur dan terukur di sertai gizi yang cukup akan meningkatkan kebugaran seseorang.kebugaran ini di tandai olah daya tahan jantung,otot,kelenturan tubuh,komposisi tubuh,kecepatan gerak,kelincahan,denyut nadi.latihan slalu di monetor[periksa]agar tidak melebihi denyut yang di perbolehkan antara72-87%  dari denyut yang maksimal.
2)      Pencegahan
Olahraga dapat mencegah dampak negatif dari hopokenisia[kurang gerak],memperlambat proses penuaan,memperlancar proses kelahiran pada wanita kehamilan.
3)        Pengobatan
Membantu proses penyambuhan pada penyakit jantung,kencing manis,rematik,asma,kropos tulang,dll.peredaran darah orang yang berolahraga lebih lancar,sehingga racun yang menumpuk di tubuh cepat di keluarkan.
4)      Pemulihan
Penyandang cacat,kerusakan otak,tuna rungu,epilepsi dll membutuhkan olahraga yang sesuai dengan keadaan yang di penderita,apabila penyandang cacat ini tidak melakukan olahraga maka cacatnya akan bertambah karena terjadi kekurangan gerak,otak menjadi lemah sehingga mudah timbul penyakit-penyakit,jantung,ginjal,saluran darah,dll selain itu olahraga bagi penyandang cacat juga sangat di perlukan untuk menghilangkan anggapan masyarakat bahwa mereka tidak mampu berbuat apa-apa.
3.         Hubungan pendidikan Jasmani dan Olahraga
Dalam memahami arti pendidikan jasmani, kita juga harus mempertimbangkan hubungan antar bermain (play) dan olahraga (sport), sebagai istilah yang lebih dahulu popular dan lebih sering digunakan dalam konteks kegiatan sehari-hari. Pemahaman tersebut akan membantu para guru atau masyarakat dalam memahami peranan dan fungsi pendidikan jasmani secara lebih konseptual. Bermain pada intinya adalah aktifitas yang digunakan sebagai hiburan. Kita mengartikan bermain sebagai hiburan yang bersifat fisikal yang tidak kompetitif, meskipun bermain tidak harus selalu bersifat fisik. Bermain bukanlah berarti olahraga dan pendidikan jasmani, meskipun elemen dari bermain dapat ditemukan didalam keduanya.
Olahraga dipihak lain adalah suatu bentuk bermain yang terorganisir dan bersifat kompetitif. Beberapa ahli memandang bahwa olahraga semata-mata suatu bentuk permainan yang teorganisasi, yang menempatkanya lebih dekat kepada istilah pendidikan jasmani. Akan tetapi, pengujian yang lebih cermat menunjukan bahwa secara tradisional, olahraga melibatkan aktivitas kompetitif. Diatas semua pengertian itu, olahraga adalah aktifitas kompetitif. Kita tidak dapat mengartikan olahraga tanpa memikirkan kopetisi, sehingga tanpa kompetisi itu, olahraga berubah menjadi semata-mata bermain atau rekreasi. Bermain, karenanya pada satu saat menjadi olahraga, tetapi sebaliknya, olahraga tidak pernah hanya semata-mata bermain, karena aspek kompetitif teramat penting dalam hakikatnya.
Bermain, olahraga dan pendidikan jasmani melibatkan bentuk-bentuk gerakan, dan ketiganya dapat melumat secara pas dalam konteks pendidikan jika digunakan untuk tujuan-tujuan kependidikan. Bermain dapat membuat rileks dan menghibur tanpa adanya tujuan prestasi maka itulah pendidikan jasmani (penjas). Pendidikan jasmani serta olahraga memiliki satu persamaan yang sangat menonjol, yaitu sama-sama mengandung “gerak insani”. Olahraga dapat dimanfaatkan untuk proses kependidikan, meskipun pada dasarnya olahraga muncul bukan diarahkan untuk kepentingan pendidikan. Sedangkan penjas tidak akan lepas dari yang namanya aktivitas jasmani.
4.         Perbedaan Pendidikan Jasmani dan Olahraga
Kategori
Pendidikan Jasmani
Olahraga

Objek

Seluruh Siswa
Siswa yang berminat/berbakat dalam cabang olahraga tertentu, calon atlet/atlet
Subjek
Guru pendamping
Pelatih
Tujuan
Untuk mencapai tujuan pendidikan
Untuk mencapai prestasi yang setinggi-tingginya
Materi
Semua aktivitas fisik / gerak (termasuk olahraga )
Cabang-cabang olahraga
Sasaran
Aktivitas fisik / gerak sebagai alat
Terkuasainya cabang olahraga tertentu/yang diminati
Sifat
Wajib
Sukarela
Waktu pelaksanaan
Intrakurikuler
Ekstrakurikuler


Sumber Belajar:

PENTINGNYA MENGAJARKAN NILAI DALAM PENDIDIKAN JASMANI DAN OLAHRAGA PADA PESERTA DIDIK

(Frost,1975:241) berpendapat nilai adalah keyakinan dasar yang berperan sebagai satu fondasi yang kukuh untuk pembentukan sikap yang berpengaruh dan melakukan control terhadap perilaku. Orang tua, guru, dan pelatih mempunyai posisi yang menguntungkan untuk membantu siswa dan atlit dalam mengembangkan sistem nilai yang akan dapat mengatasi banyak cobaan dan godaan dalam hidup. Sistem nilai seseorang berperan sebagai batu landasan untuk membangun filsafat hidupnya.
(Coomb, 2004:7) posisi pendidikan jasmani dan olahraga pada kedudukan yang amat strategis yakni sebagai alat pendidikan, sekaligus pembudayaan, karena kedua istilah yang amat dekat dan erat. Maknanya tidak lain adalah sebagai proses pengalihan dan penerimaan nilai-nilai. Dalam konteks keolahragaan secara menyeluruh, memang kian kita sadari perubahan  yang terjadi sebagai dampak dari globalisasi dalam ekonomi yang dipacu oleh teknologi komunikasi juga terbawa dalam dunia olahraga.
Diera globalisasi ini banyak sekali permasalahan yang timbul karena kurangnya pemahaman tentang nilai. Mengajarkan nilai itu sangat sulit. Banyak sekali kendala yang dialami para pendidik dalam mengajarkan nilai. Terutama mengajarkan nilai dalam olahraga dan pendidikan jasmani. Sekarang ini olahraga dan pendidikan jasmani justru dianggap tidak penting, karena tidak ada nilai yang tersirat secara lansung dalam pembelajarannya. Olahraga dan pendidikan jasmani juga dianggap pelajaran yang  hanya bermain-main saja. Padahal salah satu peran permainan adalah sebagai kekuatan sosial.
Dinegara-negara maju di dunia, olahraga dan pendidikan jasmani sangatlah penting dalam pembelajaran. Sangat berbeda keadaannya dengan di Indonesia yang memandang sebelah mata tentang olahraga dan pendidikan jasmani, karena dalam proses pembelajaran pendidikan jasmani, seorang guru pendidikan jasmani tidak selamanya berhasil dalam mencapai tujuan pembelajaran yang telah ditetapkan sebelumnya. Adakalanya guru pendidikan jasmani dan olahraga dihadapkan pada kendala-kendala dalam pelaksanaan pembelajarannya, sehingga tuntutan untuk melaksanakan kurikulum seringkali tidak terpenuhi.

A.    Pendidikan Jasmani dan Olahraga
Supandi (1990:29) mengemukakan bahwa “Pendidikan jasmani dan olahraga suatu pendidikan yang menggunakan aktivitas fisik sebagai alat untuk mencapai tujuan pendidikan”. Aktivitas jasmani dalam pengertian ini dipaparkan sebagai kegiatan peserta didik untuk meningkatkan keterampilan motorik dan nilai-nilai fungsional yang mencakup aspek kognitif, afektif, psikomotorik dan sosial. Aktivitas ini harus dipilih dan disesuaikan dengan tingkat perkembangan peserta didik.
Sasaran yang demikian kompleks telah menjadikan pendidikan jasmani dan olahraga menjadi bagian yang tidak terpisahkan dari pendidikan lainnya. Karena kontribusinya sudah dapat dirasakan oleh anak didik maupun pendidik dalam mata pelajaran lainnya. Para guru di sekolah telah merasakan bahwa pembelajaran pendidikan jasmani dan olahraga yang dilaksanakan secara baik akan memberi dampak positif dalam mendukung kualitas pembelajaran lainnya. Karena nilai-nilai pendidikan yang melekat dalam pembelajaran pendidikan jasmani dan olahraga lebih fokus pada penanaman budaya gerak yang berimplikasi pada domain lain yang ada pada setiap individu.
B.     Tahap-tahap Pembentukan Nilai
Menurut Krathwohl pembentukan nilai itu melalui lima tahap, yaitu
1.      Menerima (receiving)
Peserta didik menjadi peka terhadap gejala atau fakta dalam kelas, ruang senam atau tempat lain dalam lingkungannya. Kepekaan tersebut mempunyai rentangan dari perhatian pada lingkungan secara umum sampai pada gejala tertentu dengan lingkungannya.
2.      Bertindak (responding)
Peserta didik menaruh perhatian dan bebuat sesuatu terhadap gejala terentu dan mencari serta memperoleh kepuasan dengan berpartisipasi dalam aktifitas yang dipilih.
3.      Menilai (valuing)
Tahap ini bercirikan perhatin terhadap objek, perilaku atau gejala tertentu. Perhatian mempunyai rentangan dari hanya dapat menerima sampai pada menghargai dan selanjutnya akan memelihara nilai tersebut.
4.      Menyusun (organization)
Nilai yang berbeda-beda diteliti dan dianalisis. Pertentangan diselesaikan dan individu tersebut mulai mengembangkan satu sistem nilai.
5.      Memerankan (characterization)
Perilaku peserta didik serasi dengan struktur nilainya.

C.     Kendala Mempelajari Nilai
Olahraga bila digunakan sebagai media untuk mengajar nilai, harus bersifat pendidikan. Jadi pendidikan jasmani dan olahraga bukan bertujuan rekreasi atau memenangkan pertandingan saja. Nilai dalam olahraga tidak terjadi begitu saja. Ia dipelajari dan proses pendidikan harus memberikan kemungkinan untuk mempelajarinya. Bila proses itu direcenakan dan dilaksanakan dibawah bimbingan seorang pendidik yang baik, nilai itu dapat dipelajari peserta didik, tetapi usaha ini bukanlah sesuatu yang mudah. Bila semua usaha para pelatih dicurahkan untuk menang, maka tidak ada waktu tersisa untuk peserta didik mempelajari nilai. Karena itulah program pertandingan olahraga antar sekolah cenderung tidak memberikan kemungkinan untuk mengembangkan budi pekerti.
Kendala untuk mengajarkan nilai dalam olahraga dan pendidikan jasmani adalah waktu yang tersedia untuk melaksanakannya sangat terbatas. Kendala yang sama dijumpai dalam mengajarkan pengetahuan dan keterampilan dalam pendidikan jasmani. Selain waktu yang tersedia terbatas, jumlah siswa cukup banyak dalam satu kelas sedangkan peralatan dan fasilitas terbatas dalam jumlah dan jenisnya. Mengajar nilai tidaklah mudah, ia harus dilaksanakan dalam jangka waktu yang relative lama dan harus diikuti dengan tatap-muka dan hubungan pribadi dengan peserta didik karena mengajar nilai bersifat individual dan personal.
Faktor keberhasilan mengajar nilai terutama terletak pada pendidiknya. Nilai-nilai yang diajarkan dan dilatihkan kepada peserta didik harus tercemin dalam perbuatan dan tindakannya. Ia harus menjadi contoh, apa yang dikatakannya harus sesuai dengan perbuatannya. Bila ia tidak konsiten menegakkan nilai-nilai yang ia diajarkannya, maka peran pendidik dan pendidikan nilai tidak akan berhasil.
D.    Peran Permainan sebagai Kekuatan Sosial
Permainan dapat dipandang sebagai satu kebudayaan universal yang dapat dilihat dalam semua masyarakat. Permainan sering digunakan untuk mempersiapkan anak-anak untuk kehidupan orang dewasa. Anak-anak dapat mengembangkan identitas diri dan juga mengetahui peran dan identitas orang lain melalui bermain.
Menurut Bucher (1983:382) perkembangan permainan sebagai satu bagian penting dari masyarakat Amerika pada umumnya dapat disebabkan karena Industrialisasi, yang mengakibatkan hari kerja dalam seminggu berkurang dan meningkatnya jam bersantai bagi para pekerja, banyak dari mereka memilih olahraga dan aktivitas permainan lainya untuk mengisi waktu luang mereka.
Pada umumnya semua pria dan wanita membutuhkan kesempatan untuk berpartisipasi dalam aktivitas bermain. Kebutuhan ini terutama perlu bagi anak-anak dan remaja, karena mengandung nilai pendidikan. Aktivitas bermain memberikan mereka kesempatan untuk meniru situasi hidup sesungguhnya dan untuk kreatif. Bila anak-anak diberikan kesempatan untuk ambil bagian dalam situasi seperti yang akan mereka hadapi diluar ruang kelas mereka akan memperoleh gambaran tentang berbagai akibat dari tindak tanduk mereka. Dalam masyarakat yang kompleks dewasa ini penting bagi siswa mengenal dunia sesungguhnya sementara mereka masih dalam pendidikan dengan harapan sekolah akan dapat mempersiapkan mereka dalam pendidikan dengan berbagai macam kemampuan untuk memecahkan masalah yang akan mereka hadapi dalam masa mendatang.
Dengan memberikan kesempatan kepada siswa untuk berpartisipasi dalam berbagai macam kegiatan bermain, pendidikan jasmani dapat memainkan peran penting dalam perkembangan sosial siswa. Perkembangan sosial adalah salah satu tujuan utama dari pendidikan jasmani yang dirancang dan diselenggarakan dilembaga pendidikan.
Para ahli sosiologi dan psikologi sosial telah meneliti hubungan antara permainan dan pelaksanaan latihan anak-anak dalam masyarakat. Hasil penelitian adalah sebagai berikut:
1.      Permainan berhubungan dengan latihan kepatuhan dan kedisiplinan.
2.      Permainan berkaitan dengan tugas-tugas rutin dan latihan tangung jawab.
3.      Permainan biasa berhubungan dengan latihan pencapaian tujuan atau sasaran dan menguasai lingkungan dimana ia berada (Singer,1976:280).
Jadi penting sekali bagi guru pendidikan jasmani untuk dipahami dengan sungguh-sungguh bahwa permainan bukan hanya bertujuan agar siswa memiliki efisiensi dan koordinasi dalam gerak, tetapi juga agar aspek sosial siswa berkembang dengan baik. Guru harus menyadari bahwa aktivitas bemain mempunyai nilai untuk mempersiapkan siswa bagi kehidupan sosial dimasa mendatang.

DAFTAR PUSTAKA
Abdullah A, Agus M.1994. Dasar-dasar Pendidikan Jasmani. Jakarta: Direktorat Jenderal Pendidikan Tinggi Departemen Pendidikan dan Kebudayaan.189-192.
Bucher, C.A.(1983). Foundation of Physical Education and Sport, St. Louis: The C.V. Mosby Company. 382.
Frost, R.B. (1975). Physical Education: Foundations, Practices, Principal. Reading: Addison-Westly Publishing Company. 241.
Krathwohl, D.R. et all. (1956). Taxonomy of educational Objectives, Handbook II: Affective Domain. New York: David McKay Company, Inc.
Singer, R.N. (1976). Physical Education: Foundations. New York: Holt, Rinehart and Winston. 280.
Supandi.1990. Pendidikan Jasmani. IKIP Yogyakarta : Direktorat  Jenderal Pendidikan Tinggi.29.

RUANG LINGKUP PENDIDIKAN JASMANI



1.      Permainan dan olahraga meliputi: olahraga tradisional, permainan, eksplorasi gerak, keterampilan lokomotor non-lokomotor,dan manipulatif, atletik, kasti, rounders, kippers, sepak bola, bola basket, bola voli, tenis meja, tenis lapangan, bulu tangkis, dan beladiri, serta aktivitas lainnya.
2.      Aktivitas pengembangan meliputi: mekanika sikap tubuh, komponen kebugaran jasmani, dan bentuk postur tubuh serta aktivitas lainnya.
3.      Aktivitas senam meliputi: ketangkasan sederhana, ketangkasan tanpa alat, ketangkasan dengan alat, dan senam lantai, serta aktivitas lainnya.
4.      Aktivitas ritmik meliputi: gerak bebas, senam pagi, SKJ, dan senam aerobic serta aktivitas lainnya.
5.      Aktivitas air meliputi: permainan di air, keselamatan air, keterampilan bergerak di air, dan renang serta aktivitas lainnya.
6.      Pendidikan luar kelas, meliputi: piknik/karyawisata, pengenalan lingkungan, berkemah, menjelajah, dan mendaki gunung.
7.      Kesehatan, meliputi penanaman budaya hidup sehat dalam kehidupan sehari-hari, khususnya yang terkait dengan perawatan tubuh agar tetap sehat, merawat lingkungan yang sehat, memilih makanan dan minuman yang sehat, mencegah dan merawat cidera, mengatur waktu istirahat yang tepat dan berperan aktif dalam kegiatan P3K dan UKS. Aspek kesehatan merupakan aspek tersendiri, dan secara implisit masuk ke dalam semua aspek.
Sumber Belajar:

FUNGSI PENDIDIKAN JASMANI



1.      Aspek organik
a.       Menjadikan fungsi sistem tubuh menjadi lebih baik sehingga individu dapat memenuhi tuntutan lingkungannya secara memadai serta memiliki landasan untuk pengembangan keterampian.
b.      Meningkatkan kekuatan yaitu jumlah tenaga maksimum yang dikeluarkan oleh otot atau kelompok otot.
c.       Meningkatkan daya tahan yaitu kemampuan otot atau kelompok otot untuk menahan kerja dalam waktu yang lama.
d.      Meningkatkan daya tahan kardiovaskuler, kapasitas individu untuk melakukan aktivitas yang berat secara terus menerus dalam waktu relatif lama.
e.       Meningkatkan fleksibelitas, yaitu; rentang gerak dalam persendian yang diperlukan untuk menghasilkan gerakan yang efisien dan mengurangi cidera.

2.      Aspek neuromuskuler
a.       Meningkatkan keharmonisan antara fungsi saraf dan otot.
b.      Mengembangkan keterampilan lokomotor
c.       Mengembangkan keterampilan non-lokomotor
d.      Mengembangkan keterampilan dasar manipulative
e.       Mengembangkan faktor-faktor gerak, seperti
f.       Mengembangkan keterampilan olahraga, seperti; sepak bola, soft ball, bola voli, bola basket, baseball, atletik, dan lain-lain.
g.      Mengembangkan keterampilan rekreasi, seperti, menjelajah, mendaki, berkemah, berenang dan lain-lain.
3.      Aspek perseptual
a.       Mengembangkan kemampuan menerima dan membedakan isyarat.
b.      Mengembangkan hubungan-hubungan yang berkaitan dengan tempat atau ruang
c.       Mengembangkan koordinasi gerak visual
d.      Mengembangkan keseimbangan tubuh (statis, dinamis).
e.       Mengembangkan dominansi (dominancy).
f.       Mengembangkan lateralitas (laterality).
g.      Mengembangkan image tubuh (body image).
4.       Aspek kognitif
a.       Mengembangkan kemampuan menggali, menemukan sesuatu, memahami, memperoleh pengetahuan dan membuat keputusan
b.      Meningkatkan pengetahuan peraturan permainan, keselamatan, dan etika.
c.       Mengembangkan kemampuan penggunaan strategi dan teknik yang terlibat dalam aktivitas yang terorganisasi.
d.      Meningkatkan pengetahuan bagaimana fungsi tubuh dan hubungannya dengan aktivitas jasmani.
e.       Menghargai kinerja tubuh; penggunaan pertimbangan yang berhubungan dengan jarak, waktu, tempat, bentuk, kecepatan, dan arah yang digunakan dalam mengimplementasikan aktivitas dan dirinya.
f.       Meningkatkan pemahaman tentang memecahkan problem-problem perkembangan melalui gerakan.
5.      Aspek sosial
a.       Menyesuaikan diri dengan orang lain dan lingkungan dimana berada.
b.      Mengembangkan kemampuan membuat pertimbangan dan keputusan dalam situasi kelompok.
c.       Belajar berkomunikasi dengan orang lain.
d.      Mengembangkan kemampuan bertukar pikiran dan mengevaluasi ide dalam kelompok.
e.       Mengembangkan kepribadian, sikap, dan nilai agar dapat berfungsi sebagai anggota masyarakat.
f.       Mengembangkan rasa memiliki dan rasa diterima di masyarakat.
g.      Mengembangkan sifat-sifat kepribadian yang positif.
h.      belajar menggunakan waktu luang yang konstruktif.
i.        Mengembangkan sikap yang mencerminkan karakter moral yang baik.
6.      Aspek emosional
a.       Mengembangkan respon yang sehat terhadap aktivitas jasmani.
b.      Mengembangkan reaksi yang positif sebagai penonton.
c.       Melepas ketegangan melalui aktivitas fisik yang tepat.
d.      Memberikan saluran untuk mengekspresikan diri dan kreativitas.
e.       Menghargai pengalaman estetika dari berbagai aktivitas yang relevan.
Sumber Belajar:

TUJUAN PENDIDIKAN JASMANI

1.      Mengembangkan keterampilan pengelolaan diri dalam upaya pengembangan dan pemeliharaan kebugaran jasmani serta pola hidup sehat melalui berbagai aktivitas jasmani dan olahraga yang terpilih
2.      Meningkatkan pertumbuhan fisik dan pengembangan psikis yang lebih baik
3.      Meningkatkan kemampuan dan keterampilan gerak dasar
4.      Meletakkan landasan karakter moral yang kuat melalui internalisasi nilai-nilai yang terkandung di dalam pendidikan jasmani, olahraga dan kesehatan
5.      Mengembangkan sikap sportif, jujur, disiplin, bertanggungjawab, kerjasama, percaya diri dan demokratis
6.      Mengembangkan keterampilan untuk menjaga keselamatan diri sendiri, orang lain dan lingkungan
7.      Memahami konsep aktivitas jasmani dan olahraga di lingkungan yang bersih sebagai informasi untuk mencapai pertumbuhan fisik yang sempurna, pola hidup sehat dan kebugaran, terampil, serta memiliki sikap yang positif.
Sumber Belajar:
http://pojokpenjas.blogspot.co.id/2007/12/bab-i-pendahuluan-rasional.html